BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Belajar merupakan proses internal yang kompleks dan
melibatkan berbagai ranah diantaranya, ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Tujuan belajar yang diharapkan dapat meningkatkan kognitif,
membenahi afektif dan melatih psikomotorik ini merupakan proses yang tidak
terlepas dari keinginan dan kemampuan dasar yang dimiliki individu untuk
mencapai tujuan belajar itu sendiri. Dalam usaha mempermudah menggapai tujuan
belajar tersebut individu membutuhkan seorang yang dapat membantu mempermudah
dalam proses belajarnya tersebut, dalam hal ini guru. Guru menjadi komponen
yang amat penting dalam proses pembelajaran, mengingat dalam proses
pembelajaran ini guru berperan sebagai fasilitator dan sekaligus motivator bagi
peserta didiknya yang tentunya diharapkan dapat memberikan berbagai kemudahan
peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut.
“ Guru merupakan seorang pengelola (manager) dan perancang (designer) dari pengalaman belajar” (Dimyati,
2009).
Guru
merupakan seorang pengelola dan perancang dari pengalaman belajar, dari
pernyataan tersebut dapat kita simpulkan betapa vitalnya peranan seorang guru
dalam membentuk serta mengelola berbagai karakter yang ada pada diri peserta
didik agar dapat tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Dalam sistem
belajar mengajar yang sifatnya klasikal (bersama-sama dalam suatu kelas), guru
harus berusaha agar proses belajar mengajar mencerminkan komunikasi dua arah.
Mengajar bukan semata-semata memberikan informasiseraya tanpa mengembangkan
kemampuan mental, fisik, dan penampilan diri. Oleh karena itu, proses
pembelajaran di kelas harus dapat mengembangkan cara belajar siswa untuk
mendapatkan, mengelola, menggunakan dan mengkomunikasikan apa yang telah
diperoleh dalam proses belajar tersebut (Suryosubroto, 2009 : 59)
Proses pembelajaran merupakan kegiatan interaksi diantara
dua unsur manusiawi dimana anak didik sebagai pihak yang belajar dan guru
sebagai pihak pengajar. Sebagai seorang yang memiliki posisi strategis dalam
kegiatan pembelajaran guru diharapkan memiliki berbagai kompetensi. Kompetensi
yang dimaksud disini meliputi kepribadian, sosial, dan kompetensi profesional.
Melihat begitu pentingnya peranan seorang guru dalam upaya memunculkan
potensi-potensi yang ada dalam diri siswa agar dapat tereksplorasi. Oleh karena
itu pemakalah menyajikan tulisan tentang “Pendekatan Keterampilan Proses dalam
Pembelajaran” untuk memenuhi tugas mata kuliah “Belajar dan Pembelajaran” selain
itu juga di harapkan agar dapat menambah wawasan pembaca nantinya.
1.2
Rumusan Masalah
·
Apakah Pendekatan
Keterampilan dalam Proses Pembelajaran itu?
·
Apa saja Jenis-jenis
keterampilan dalam keterampilan proses?
·
Bagaimana Penerapan
keterampilan proses dalam pembelajaran?
·
Apa saja faktor
yang menentukan keberhasilan PKP?
1.3
Tujuan
·
Untuk mengetahui Pendekatan
Keterampilan dalam Proses Pembelajaran.
·
Untuk mengetahui Jenis-jenis
keterampilan dalam keterampilan proses.
·
Untuk mengetahui Penerapan
keterampilan proses dalam pembelajaran.
·
Untuk mengetahui
faktor yang menentukan keberhasilan PKP.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendekatan
Keterampilan Proses dalam Pembelajaran
Pendekatan keterampilan proses dapat
diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan
intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar
yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa (Depdikbud, 1986).
Pendekatan
Keterampilan Proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang
didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan
seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan,
meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan
tersebut” (Azhar, 1993).
Pendekatan
Keterampilan Proses bukanlah tindakan intruksional yang berada diluar kemampuan
siswa. Justru Pendekatan Keterampilan Proses dimaksudkan untuk mengembangkan
kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa (Dimyati, 2009 : 138).
Jadi dari beberapa pengertian diatas, Pendekatan
Keterampilan Proses dapat diartikan sebagai pendekatan dalam proses belajar
mengajar yang mengarahkan pada wawasan untuk menemukan fakta dan konsep maupun
pengembangan keterampilan–keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang
bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada dasarnya telah ada dalam diri peserta
didik sehingga mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu dalam diri
peserta didik itu sendiri. Sederhananya
Pendekatan Keterampilan Proses adalah
bagaimana cara guru menggali serta mengembangkan potensi yang dimiliki oleh
peserta didik yang pada dasarnya telah ada. Disini peserta didik di ibaratkan
sebagai anak panah yang siap diarahkan oleh gurunya sebagai pemanah yang akan
mengarahkan anak panah tersebut sesuai dengan keinginan serta kemampuan yang
dimiliki oleh peserta didik tersebut.
Keterampilan
proses terdiri dari beberapa keterampilan diantaranya yaitu: mengamati,
mengklasifikasikan, mengkomunikasikan, mengukur, memprediksi, dan menyimpulkan.
2.2 Jenis-jenis Keterampilan Sosial
A. Mengamati
Melalui kegiatan mengamati,
kita belajar tentang dunia sekitar yang fantastis. Manusia mengamati
objek-objek dan fenomena alam dengan pancaindra : penglihatan, pendengaran,
perabaan, penciuman, dan perasa/pencecap. Informasi yang kita peroleh, dapat
menuntut keinginan, mempertanyakan, memikirkan, melakukan interpretasi tentang
lingkungan kita, dan meneliti lebih lanjut. Selain itu, kemampuan mengamati
merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan memperoleh ilmu
pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk mengembangkan
keterampilan-keterampilan proses yang lain. Mengamati merupakan tanggapan kita
terhadap berbagai objek dan peristiwa alam dengan menggunakan pancaindra.
Dengan kata lain, melalui observasi kita mengumpulkan data tentang
tanggapan-tanggapan kita (Dimyati, 2009 : 141).
B.
Mengklasifikasikan
Mengklasifikasikan merupakan keterampilan proses untuk
memilah berbagai objek peristiwa berdasarkan hususnya, sehingga di dapatkan
golongan/kelompok sejenis dari objek peristiwa yang dimaksud.
Agar kita memahami sejumlah
besar objek, peristiwa, dan segala yang ada dalam kehidupan di sekitar kita,
lebih mudah apabila menentukan berbagai jenis golongan. Kita menentukan golongan
dengan mengamati persamaan, perbedaan, dan hubungan serta pengelompokan objek
berdasarkan kesesuaian dengan berbagai tujuan. Syarat-syarat dasar dari berbagai
sistem pengelompokan adalah bahwa hal itu berguna sepenuhnya. Contoh kegiatan
yang menampakan keterampilan mengklasifikasikan adalah mengklasifikasikan
makhluk hidup selain manusia menjadi dua kelompok: binatang dan tumbuhan,
mengklasifikasikan binatang menjadi binatang beranak dan bertelur,
mengklasifikasikan cat berdasarkan warna, dan kegiatan lain yang sejenis.
C.
Mengkomunikasikan
Kemampuan berkomunukasi dengan orang lain merupakan
dasar untuk segala yang kita kerjakan. Grafik, bagan, peta, lambang-lambang,
diagram persamaan matematika dan demonstrasi visual, sama baiknya dengan
kat-kata yang ditulis atau dibicarakan, semuanya adalah cara-cara berkomunikasi
yang seringkali digunakan dalam ilmu pengetahuan. Komunikasi efektif yang jelas,
tepat, dan tidak samar-samar menggunakan keterampilan-keterampilan yang perlu
dalam komunikasi, hendaknya dilatih dan dikembangkan pada diri siswa. Hal ini
didasarkan pada kenyataan bahwa semua orang mempunyai kebutuhan untuk
mengemukakan ide, perasaan, dan kebutuhan lain pada diri kita. Manusia belajar
pada awal-awal kehidupan bahwa komunikasi merupakan dasar untuk memecahkan
masalah. Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai menyampaikan dan memperoleh
fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara,visual, atau
suara visual. Contoh-contoh kegiatan dari keterampilan mengkomunikasiakan
adalah mendiskusikan suatu masalah, membuat laporan, membaca peta, dan kegiatan
lain yang sejenis.
D.
Mengukur
Mengukur, berapa banyak? Berapa jarak? Berapa ukurannya?
Berapa jumlahnya? Pertanyaan ini sering kita dengar atau ajukan dalam kehidupan
sehari-hari, dan kita perlu untuk memiliki kemampuan menjawabnya dengan mudah.
Pengembanganyang baik terhadap keterampila-keterampilan mengukur merupakan hal
yang terpenting dalam membina observasi kuantitatif, mengklasifikasikan, dan
membandingkan segala sesuatu disekeliling kita, serta mengkomunikasikan secara
tepat dan efektif kepada yang lain. Mengukur dapat diartikan sebagai
membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah di tetapkan
sebelumnya. Contoh-contoh kegiatan yang menampakan keterampilan mengukur antara
lain: mengukur panjang garis, mengukur berat badan, mengukur temperatur kamar,
dan kegiatan lain yang sejenis.
E.
Memprediksi
Suatu prediksi merupakan suatu ramalan dari apa yang
kemudian hari mungkin dapat diamati. Untuk dapat membuat prediksi yang dapat
dipercaya tentang objek dan peristiwa, maka dapat dilakukan dengan
memperhitungkan penentuan secara tepat perilaku terhadap lingkungan kita.
Keteraturan dalam lingkungan kita mengizinkan untuk mengenal pola-pola dan
untuk memprediksi terhadap pola-pola apa yang mungkin dapat diamati kemudian
hari. Memprediksi dapat diartikan mengantisipasi atau membuat ramalan tentang
segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada
pola atau kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan
prinsip dalam ilmu pengetahuan.
Kegiatan-kegiatan yang dapat digolongkan sebagai
keterampilan memprediksi, antara lain: berdasarkan pola waktu terbitnya
matahari yang telah diobservasi dapat di prediksi waktu terbitnya matahari pada
tanggal tertentu, memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak
tertentu, dengan menggunakan kendaraan yang kecepatannya tertentu, dan kegiatan
lain yang sejenis.
F.
Menyimpulkan
Kita mempunyai suatu penghargaan dan penghayatan yang
lebih baik terhadap lingkungan kita, jikalau kita mampu menjabarkan dan
menjelaskan segala sesuatu yang membahagiakan dari sekitar kita. Kita belajar
untuk mengenal pola-pola dan memperkirakan ini akan terjadi lagi pada kondisi
yang sama. Pada umumnya perilaku manusia didasarkan pada pembuatan kesimpulan
tentang kejadian-kejadian. Sebagai contoh: belajar merupakan suatu kesimpulan
yang dibuat dari perubahan dalam perilaku pebelajar yang diamati.
Menyimpulkan dapat diartikan sebagai suatu keterampilan
untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep
dan prinsip yang diketahui. Kegiatan-kegiatan yang menampakan keterampilan
menyimpulkan, antara lain: berdasarkan pengamatan diketahui bahwa api lilin
mati setelah ditutup dengan gelas rapat-rapat, siswa dapat menyimpulkan bahwa lilin
dapat menyala bila ada oksigen (Dimyati, 2009 : 144).
2.3
Penerapan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran
A. Langkah-Langkah
Pelaksanaan Keterampilan Proses
1.
Pemanasan
Tujuan dari kegiatan ini untuk mengarahkan siswa
pada pokok permasalahan agar siswa siap, baik secara mental, emosional maupun
fisik. Kegiatan ini antara lain dapat berupa:
·
Pengulasan
lansung pengalaman yang pernah dialami siswa maupun guru.
·
Pengulasan
bahan pengajaran yang pernah di pelajari pada waktu sebelumnya.
·
Kegiatan-kegiatan
yang menggugah dan memngarahkan perhatian siswa antara lain meminta
pendapat/saran siswa, menunjukan gambar, slide, film atau hal lain
(Suryosubroto, 2009 : 60)
2. Proses
Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar hendaknya selalu
mengikutkan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan-kemampuan siswa
antara lain, mangamati, menginterpretasikan, memprediksi dan melaksanakan
penelitian, serta mengkomunikasikan hasil penemuannya (Suryosubroto, 2009 : 61)
Penerapan Pendekatan
Keterampilan Proses bukan merupakan hal yang mengada-ada, akan tetapi merupakan
hal yang wajar dan harus dilaksanakan oleh setiap guru dalam pembelajarannya.
Untuk dapat menerapkannya dalam pembelajaran, kita perlu mempertimbangkan dan
memperhatikan karakteristik siswa dan karakteristik mata pelajaran/bidang studi
(Dimyati, 2009 : 151).
Perlunya mempertimbangkan faktor emosional anak dalam
merancang pembelajaran juga sangat diperlukan. Kecerdasan emosional adalah
suatu cara baru untuk membesarkan anak. Mempelajari perkembangan kepribadian
anak dengan melihat tingkat intelligence
quotent (IQ) merupakan salah satu alat yang banyak digunakan untuk mengetahuinya.
Namun belakangan berkembang suatu alat yang disebut emotional quotien (EQ) yang oleh para pakar dianggap sebagai salah
satu alat yang baik untuk mengukur kecerdasan emosional anak. Menurut lawrence
Shapiro (1997) kecerdasan emosional anak dapat dilihat pada keuletan,
optimisme, motivasi diri dan antusiasme. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa
kecerdasan emosional (EQ) pengukurannya bukan didasarkan pada kepintaran
seorang anak, tetapi melalui suatu yang disebut dengan karakteristik pribadi
atau “karakter” (B. Uno, 2006)
Dengan cara mengenali dan mengetahui karakteristik
peserta didiknya seorang guru akan lebih mudah dalam menerapkan Pendekatan
Keterampilan Proses dalam pembelajarannya. Selain itu, kita perlu menyadari
bahwa dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat terjadi pengembangan lebih dari
satu macam keterampilan proses. Untuk keterampilan yakni mengobservasi,
mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan
pengembangannya tidak berhenti hanya pada jenjang sekolah dasar.
Dalam
pembelajaran sekolah tingkat lanjutan pertama (SLTP) maupun sekolah menegah
atas (SMA) atau sekolah menegah kejuruan (SMK), penerapan pengembangan
keterampilan dasar tetap dilakukan. Penerapan keterampilan dasar Pendekatan
Keterampilan Proses pada semua jenjang pendidikan diperlukan untuk mendukung
penerapan keterampilan terintegrasi Pendekatan Keterampilan Proses. Berikut
sepuluh keterampilan terintegrasi:
1. Mengenali variabel
2. Membuat tebel data
3. Membuat grafik
4. Menggambarkan hubungan antar variabel
5. Mengumpulkan dan mengolah data
6. Menganalisis penelitian
7. Menyusun hipotesis
8. Mendefinisikan variabel
9. Merancang penelitian
10. Bereksperimen.
Dalam penerapan keterampilan dasar Pendekatan
Keterampilan Proses tidak diperlukan lagi uraian teorinya bagi siswa SLTP dan
sekolah menegah, yang siswa mampu melakukannya.
Penerapan
keterampilan terintegrasi Pendekatan Keterampilan Proses dalam pembelajaran
jenjang pendidikan SLTP dan sekolah menegah atas (SMA) memerlukan pembahasan
teori dari tiap keterampilan yang ada di dalamnya. Penjelasan teoritis tentang
masing-masing keterampilan terintegrasi akan membantu memudahkan siswa dalam
mempraktikannya. Mengingat keterampilan terintegrasi dalam Pendekatan
Keterampilan Proses merupakan keterampilan melaksanakan suatu kegiatan penelitian,
maka penerapannya dalam pembelajaran hendaknya dilakukan dengan urutan yang
hierarkis. Dengan kata lain, sebelum satu keterampilan dikuasai siswa jangan
berpindah kepada keterampilan lainya.
Untuk
memperjelas penerapan keterampilan-keterampilan Pendekatan Keterampilan Proses dalam
pembelajaran, berikut ini akan di contohkan penerapannya dalam bidang studi IPS
SLTP dan Mata Pelajaran Biologi SLTA kelas III.
Contoh-contoh berikut diikuti dengan analisis
terhadap deskripsi kegiatan pembelajaran untuk menentukan keterampilan
Pendekatan Keterampilan Proses yang di kembangkan.
Contoh 1 : Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses
bidang studi IPS SLTP
Bidang
Studi : Ilmu Pengetahuan Sosial
Sub-Bidang
Studi : Ekonomi Koperasi
Apokok
Bahasan : Pembangunan Daerah
Sub-Pokok
Bahasan : Pembangunan Kota
Kelas/Semeter : III/5
Implementasi
PKP :
1. Menugaskan siswa secara kelompok (2-3 orang) datang
ke lokasi proyek pembangunan di kota, dan mengumpulkan data tentang latar
belakang proyek dikerjakan, tujuan proyek, dan prakiraan anggarannya.
2. Menugaskan kelompok untuk menyusun data dan
menyajikan laporannya.
3. Mendiskusikan perolehan dari kegiatan yang
dilakukanoleh tiap-tiap kelompok.
Dari contoh penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam bidang studi
IPS SLTP ini, kita dapat menandai ada sedikitnya 4 (empat) jenis keterampilan
yang dikembangkan yakni mengamati, mengumpulkan data, menyimpulkan, dan
mengkomunikasikan.
Contoh 2 : Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses
mata pelajaran Biologi SMA
Mata
Pelajaran : Biologi
Pokok
Bahasan : Berbagai Ekosistem di
Dunia
Sub-Pokok
Bahasan : Ekosistem air Tawar
Kelas/Semester : III/5
Implementasi
PKP :
1. Menjelaskan berbagai contoh ekosistem air tawar.
2. Menugaskan siswa melakukan penyeliaan
terhadap keadaan ekosistem air tawar,
secara kelompok (2-3 orang).
3. Mendiskusikan hasil penyeliaan yang dilakukan
oleh tiap-tiap kelompok.
Dari contoh diatas, dapat kita kenali jenis-jenis keterampilan
Pendekatan Keterampilan Proses yang dikembangkan.
Untuk mewujudkan kemandirian siswa dalam belajar
memerlukan keterampilan strategi keterampilan proses disamping strategi hasil
evaluasi belajar. Keterampilan Proses masih sangat relevan dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan pembangunan bangsa saat ini.
Keterampilan Proses dalam Pembelajaran menganut sistem kontruktivistik dalam
pendidikan. Sistem ini memandang siswa sebagai manusia yang memiliki daya kreatif.
Setiap siswa memiliki potensi kreatif untuk dikembangkan dalam pembelajaran
melalui pendekatan keterampilan proses. Dalam hal ini guru akan berperan
sebagai motivator dan fasilitator, pembimbing dan pengarah siswa selama
belajar. Keterampilan berarti kemampuan untuk menggunakan pikiran, daya nalar
dan kreativitas. Secara umum keterampilan proses dapat diartikan sebagai
tindakan dalam pembelajaran yang menggunakan daya pikir dan kreativitas siswa
secara efektif dan efisien. Untuk menerapkan keterampilan proses dalam
pembelajaran ada empat faktor yang perlu dipahami:
2.4 Faktor
yang menentukan keberhasilan Pendekatan Keterampilan Proses
1.
Faktor Guru
Guru perlu bersikap progresif untuk menjalankan
pendekatan keterampilan proses. Sikap progresif ini terutama dalam menerima dan
melaksanakan sesuatu yang baru apabila menuntut pikiran serta kerja yang lebih
keras dari yang biasa dilakukan guru. Sebab, keterampilan proses akan menggeser
peranan guru dari pemberi informasi menjadi motivator dan fasilitator dalam
pembelajaran. Sebaliknya siswa harus diberi kesempatan untuk belajar mandiri
sesuai dengan potensi masing-masing siswa.
2.
Faktor Siswa
Tujuan akhir dari keterampilan proses adalah
kemandirian siswa dalam belajar. Oleh sebab itu keterampilan proses menuntut
adanya kemampuan siswa untuk menggunakan daya nalar dalam belajar. Sementara
itu setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda. Kemampuan siswa yang berbeda
dapat dikembangkan selama pelajaran berlangsung.
3.
Faktor Kelengkapan Sarana Belajar
Sarana belajar seperti alat peraga, media belajar,
laboratorium dan sebagainya sangat diperlukan dalam melaksanakan keterampilan
proses. Sebab, peran dari sarana belajar tersebut adalah untuk mempermudah
siswa dalam memahami dan menerima materi pembelajaran.
4.
Faktor Metode Mengajar
Metode mengajar juga menjadi faktor menentukan
dalam penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran. Tidak ada satupun
metode mengajar yang dapat dikatakan baik. Metode mengajar yang baik adalah
metode yang relevan dengan materi pelajaran dan sarana belajar yang ada.
Contoh metode mengajar
Model Dengar-Lihat-Kerjakan (DeLiKan)
Model ini dapat digunakan untuk menyampaikan bahan
pengajaran yang sifatnya fakta dan konsep. Aktivitas mental siswa dalam
penggunaan model mengajar ini adalah mengingat, mengenal, menjelaskan,
membedakan, menyimpulkan dan menerapkan.
Prosedur pengguanaan model Delikan adalah sebagai
berikut:
1. Pra Instruksional
2. Instruksional
3. Evaluasi
4. Tindak Lanjut
Dengan adanya ke empat faktor tersebut, penerapan
Pendekatan Keterampilan Proses akan lebih mudah dapat terwujud dan dapat
mengembangkan peserta didik lebih baik lagi. Dengan adanya kebaikan atau
kelebihan pada Pendekatan Keterampilan Proses ini, maka seyogianya calon guru
belajar Pendekatan Keterampilan Proses secara keilmuan untuk dijadikan modal
dasar menjadi sosok guru yang profesional yang siap menjadi fasilitator serta
motivator bagi peserta didiknya nanti.
Pendekatan Keterampilan Proses merupakan termasuk
dalam bagian kurikulum 2013. Dimana siswa dituntut aktif, kreatif, dan inovatif
dalam proses pembelajarannya. Namun harus diakui dalam penerapannya Pendekatan
Keterampilan Proses sulit namun tidak mustahil untuk diterapkan (Kurinasih,
2014 : 40)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pendekatan Keterampilan Proses adalah pendekatan
dalam proses belajar mengajar yang mengarahkan pada wawasan untuk menemukan
fakta dan konsep maupun pengembangan keterampilan–keterampilan intelektual,
sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang
pada dasarnya telah ada dalam diri peserta didik sehingga mampu
menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu dalam diri peserta didik itu sendiri. Keterampilan proses terdiri dari
beberapa keterampilan diantaranya yaitu: mengamati, mengklasifikasikan,
mengkomunikasiakan, megukur, memprediksi, dan menyimpulkan. Penerapan
Pendekatan Keterampilan Proses merupakan bukan perkara yang yang mudah banyak
aspek yang harus menjadi perhatian dalam upaya penerapan Pendekatan
Keterampilan Proses tersebut.
Untuk menerapkan keterampilan proses dalam
pembelajaran ada empat faktor yang perlu dipahami diantaranya, faktor guru,
faktor siswa, faktor Kelengkapan sarana belajar, dan faktor metode mengajar.
Jadi diharapkan dengan adanya kebaikan atau kelebihan pada Pendekatan
Keterampilan Proses ini, maka selayaknya kita sebagai calon guru belajar
Pendekatan Keterampilan Proses secara keilmuan untuk dijadikan modal dasar
menjadi guru yang profesional.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati & Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. PT Rineka Cipta.
Kurinasih & Sani. 2014. Implementasi Kurikulum 2013. Surabaya.
Kata Pena
Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah.
Jakarta. Rineka Cipta
Syatra
Nuni Yusvavera. 2013. Desain Relasi
Efektif Guru dan Murid. Yogyakarta. BukuBiru.
Uno,
Hamzah B. 2006. Perencanaan Pembelajaran.
Jakarta. PT Bumi Aksara.
https://id.wikipedia.org/wiki/pendekatan_keterampilan_proses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar