Senin, 15 Februari 2016



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Belajar merupakan proses internal yang kompleks dan melibatkan berbagai ranah diantaranya, ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tujuan belajar yang diharapkan dapat meningkatkan kognitif, membenahi afektif dan melatih psikomotorik ini merupakan proses yang tidak terlepas dari keinginan dan kemampuan dasar yang dimiliki individu untuk mencapai tujuan belajar itu sendiri. Dalam usaha mempermudah menggapai tujuan belajar tersebut individu membutuhkan seorang yang dapat membantu mempermudah dalam proses belajarnya tersebut, dalam hal ini guru. Guru menjadi komponen yang amat penting dalam proses pembelajaran, mengingat dalam proses pembelajaran ini guru berperan sebagai fasilitator dan sekaligus motivator bagi peserta didiknya yang tentunya diharapkan dapat memberikan berbagai kemudahan peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut.
 “ Guru merupakan seorang pengelola (manager) dan perancang (designer) dari pengalaman belajar” (Dimyati, 2009).

Guru merupakan seorang pengelola dan perancang dari pengalaman belajar, dari pernyataan tersebut dapat kita simpulkan betapa vitalnya peranan seorang guru dalam membentuk serta mengelola berbagai karakter yang ada pada diri peserta didik agar dapat tercapainya tujuan pembelajaran yang diharapkan.

Dalam sistem belajar mengajar yang sifatnya klasikal (bersama-sama dalam suatu kelas), guru harus berusaha agar proses belajar mengajar mencerminkan komunikasi dua arah. Mengajar bukan semata-semata memberikan informasiseraya tanpa mengembangkan kemampuan mental, fisik, dan penampilan diri. Oleh karena itu, proses pembelajaran di kelas harus dapat mengembangkan cara belajar siswa untuk mendapatkan, mengelola, menggunakan dan mengkomunikasikan apa yang telah diperoleh dalam proses belajar tersebut (Suryosubroto, 2009 : 59)
Proses pembelajaran merupakan kegiatan interaksi diantara dua unsur manusiawi dimana anak didik sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak pengajar. Sebagai seorang yang memiliki posisi strategis dalam kegiatan pembelajaran guru diharapkan memiliki berbagai kompetensi. Kompetensi yang dimaksud disini meliputi kepribadian, sosial, dan kompetensi profesional. Melihat begitu pentingnya peranan seorang guru dalam upaya memunculkan potensi-potensi yang ada dalam diri siswa agar dapat tereksplorasi. Oleh karena itu pemakalah menyajikan tulisan tentang “Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran” untuk memenuhi tugas mata kuliah “Belajar dan Pembelajaran” selain itu juga di harapkan agar dapat menambah wawasan pembaca nantinya.

1.2  Rumusan Masalah
·         Apakah Pendekatan Keterampilan dalam Proses Pembelajaran itu?
·         Apa saja Jenis-jenis keterampilan dalam keterampilan proses?
·         Bagaimana Penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran?
·         Apa saja faktor yang menentukan keberhasilan PKP?

1.3  Tujuan
·         Untuk mengetahui Pendekatan Keterampilan dalam Proses Pembelajaran.
·         Untuk mengetahui Jenis-jenis keterampilan dalam keterampilan proses.
·         Untuk mengetahui Penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran.
·         Untuk mengetahui faktor yang menentukan keberhasilan PKP.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran
            Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa (Depdikbud, 1986).

Pendekatan Keterampilan Proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut” (Azhar, 1993).

Pendekatan Keterampilan Proses bukanlah tindakan intruksional yang berada diluar kemampuan siswa. Justru Pendekatan Keterampilan Proses dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa (Dimyati, 2009 : 138).

            Jadi dari beberapa pengertian diatas, Pendekatan Keterampilan Proses dapat diartikan sebagai pendekatan dalam proses belajar mengajar yang mengarahkan pada wawasan untuk menemukan fakta dan konsep maupun pengembangan keterampilan–keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang  pada dasarnya telah ada dalam diri peserta didik sehingga mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu dalam diri peserta didik  itu sendiri. Sederhananya Pendekatan Keterampilan Proses  adalah bagaimana cara guru menggali serta mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik yang pada dasarnya telah ada. Disini peserta didik di ibaratkan sebagai anak panah yang siap diarahkan oleh gurunya sebagai pemanah yang akan mengarahkan anak panah tersebut sesuai dengan keinginan serta kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik tersebut.
Keterampilan proses terdiri dari beberapa keterampilan diantaranya yaitu: mengamati, mengklasifikasikan, mengkomunikasikan, mengukur, memprediksi, dan menyimpulkan.

2.2 Jenis-jenis Keterampilan Sosial
A.    Mengamati
Melalui kegiatan mengamati, kita belajar tentang dunia sekitar yang fantastis. Manusia mengamati objek-objek dan fenomena alam dengan pancaindra : penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan perasa/pencecap. Informasi yang kita peroleh, dapat menuntut keinginan, mempertanyakan, memikirkan, melakukan interpretasi tentang lingkungan kita, dan meneliti lebih lanjut. Selain itu, kemampuan mengamati merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan memperoleh ilmu pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan proses yang lain. Mengamati merupakan tanggapan kita terhadap berbagai objek dan peristiwa alam dengan menggunakan pancaindra. Dengan kata lain, melalui observasi kita mengumpulkan data tentang tanggapan-tanggapan kita (Dimyati,  2009 : 141).

B.     Mengklasifikasikan
Mengklasifikasikan merupakan keterampilan proses untuk memilah berbagai objek peristiwa berdasarkan hususnya, sehingga di dapatkan golongan/kelompok sejenis dari objek peristiwa yang dimaksud. 
Agar kita memahami sejumlah besar objek, peristiwa, dan segala yang ada dalam kehidupan di sekitar kita, lebih mudah apabila menentukan berbagai jenis golongan. Kita menentukan golongan dengan mengamati persamaan, perbedaan, dan hubungan serta pengelompokan objek berdasarkan kesesuaian dengan berbagai tujuan. Syarat-syarat dasar dari berbagai sistem pengelompokan adalah bahwa hal itu berguna sepenuhnya. Contoh kegiatan yang menampakan keterampilan mengklasifikasikan adalah mengklasifikasikan makhluk hidup selain manusia menjadi dua kelompok: binatang dan tumbuhan, mengklasifikasikan binatang menjadi binatang beranak dan bertelur, mengklasifikasikan cat berdasarkan warna, dan kegiatan lain yang sejenis.

C.    Mengkomunikasikan
Kemampuan berkomunukasi dengan orang lain merupakan dasar untuk segala yang kita kerjakan. Grafik, bagan, peta, lambang-lambang, diagram persamaan matematika dan demonstrasi visual, sama baiknya dengan kat-kata yang ditulis atau dibicarakan, semuanya adalah cara-cara berkomunikasi yang seringkali digunakan dalam ilmu pengetahuan. Komunikasi efektif yang jelas, tepat, dan tidak samar-samar menggunakan keterampilan-keterampilan yang perlu dalam komunikasi, hendaknya dilatih dan dikembangkan pada diri siswa. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa semua orang mempunyai kebutuhan untuk mengemukakan ide, perasaan, dan kebutuhan lain pada diri kita. Manusia belajar pada awal-awal kehidupan bahwa komunikasi merupakan dasar untuk memecahkan masalah. Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai menyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan dalam bentuk suara,visual, atau suara visual. Contoh-contoh kegiatan dari keterampilan mengkomunikasiakan adalah mendiskusikan suatu masalah, membuat laporan, membaca peta, dan kegiatan lain yang sejenis.
D.    Mengukur
Mengukur, berapa banyak? Berapa jarak? Berapa ukurannya? Berapa jumlahnya? Pertanyaan ini sering kita dengar atau ajukan dalam kehidupan sehari-hari, dan kita perlu untuk memiliki kemampuan menjawabnya dengan mudah. Pengembanganyang baik terhadap keterampila-keterampilan mengukur merupakan hal yang terpenting dalam membina observasi kuantitatif, mengklasifikasikan, dan membandingkan segala sesuatu disekeliling kita, serta mengkomunikasikan secara tepat dan efektif kepada yang lain. Mengukur dapat diartikan sebagai membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah di tetapkan sebelumnya. Contoh-contoh kegiatan yang menampakan keterampilan mengukur antara lain: mengukur panjang garis, mengukur berat badan, mengukur temperatur kamar, dan kegiatan lain yang sejenis.
E.     Memprediksi
Suatu prediksi merupakan suatu ramalan dari apa yang kemudian hari mungkin dapat diamati. Untuk dapat membuat prediksi yang dapat dipercaya tentang objek dan peristiwa, maka dapat dilakukan dengan memperhitungkan penentuan secara tepat perilaku terhadap lingkungan kita. Keteraturan dalam lingkungan kita mengizinkan untuk mengenal pola-pola dan untuk memprediksi terhadap pola-pola apa yang mungkin dapat diamati kemudian hari. Memprediksi dapat diartikan mengantisipasi atau membuat ramalan tentang segala hal yang akan terjadi pada waktu mendatang, berdasarkan perkiraan pada pola atau kecenderungan tertentu, atau hubungan antara fakta, konsep, dan prinsip dalam ilmu pengetahuan.
Kegiatan-kegiatan yang dapat digolongkan sebagai keterampilan memprediksi, antara lain: berdasarkan pola waktu terbitnya matahari yang telah diobservasi dapat di prediksi waktu terbitnya matahari pada tanggal tertentu, memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tertentu, dengan menggunakan kendaraan yang kecepatannya tertentu, dan kegiatan lain yang sejenis.
F.     Menyimpulkan
Kita mempunyai suatu penghargaan dan penghayatan yang lebih baik terhadap lingkungan kita, jikalau kita mampu menjabarkan dan menjelaskan segala sesuatu yang membahagiakan dari sekitar kita. Kita belajar untuk mengenal pola-pola dan memperkirakan ini akan terjadi lagi pada kondisi yang sama. Pada umumnya perilaku manusia didasarkan pada pembuatan kesimpulan tentang kejadian-kejadian. Sebagai contoh: belajar merupakan suatu kesimpulan yang dibuat dari perubahan dalam perilaku pebelajar yang diamati.
Menyimpulkan dapat diartikan sebagai suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep dan prinsip yang diketahui. Kegiatan-kegiatan yang menampakan keterampilan menyimpulkan, antara lain: berdasarkan pengamatan diketahui bahwa api lilin mati setelah ditutup dengan gelas rapat-rapat, siswa dapat menyimpulkan bahwa lilin dapat menyala bila ada oksigen (Dimyati, 2009 : 144).

2.3 Penerapan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran
A. Langkah-Langkah Pelaksanaan Keterampilan Proses
1. Pemanasan
Tujuan dari kegiatan ini untuk mengarahkan siswa pada pokok permasalahan agar siswa siap, baik secara mental, emosional maupun fisik. Kegiatan ini antara lain dapat berupa:
·         Pengulasan lansung pengalaman yang pernah dialami siswa maupun guru.
·         Pengulasan bahan pengajaran yang pernah di pelajari pada waktu sebelumnya.
·         Kegiatan-kegiatan yang menggugah dan memngarahkan perhatian siswa antara lain meminta pendapat/saran siswa, menunjukan gambar, slide, film atau hal lain (Suryosubroto, 2009 : 60)
2. Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar hendaknya selalu mengikutkan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan-kemampuan siswa antara lain, mangamati, menginterpretasikan, memprediksi dan melaksanakan penelitian, serta mengkomunikasikan hasil penemuannya (Suryosubroto, 2009 : 61)

            Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses bukan merupakan hal yang mengada-ada, akan tetapi merupakan hal yang wajar dan harus dilaksanakan oleh setiap guru dalam pembelajarannya. Untuk dapat menerapkannya dalam pembelajaran, kita perlu mempertimbangkan dan memperhatikan karakteristik siswa dan karakteristik mata pelajaran/bidang studi (Dimyati, 2009 : 151).
Perlunya mempertimbangkan faktor emosional anak dalam merancang pembelajaran juga sangat diperlukan. Kecerdasan emosional adalah suatu cara baru untuk membesarkan anak. Mempelajari perkembangan kepribadian anak dengan melihat tingkat intelligence quotent (IQ) merupakan salah satu alat yang banyak digunakan untuk mengetahuinya. Namun belakangan berkembang suatu alat yang disebut emotional quotien (EQ) yang oleh para pakar dianggap sebagai salah satu alat yang baik untuk mengukur kecerdasan emosional anak. Menurut lawrence Shapiro (1997) kecerdasan emosional anak dapat dilihat pada keuletan, optimisme, motivasi diri dan antusiasme. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa kecerdasan emosional (EQ) pengukurannya bukan didasarkan pada kepintaran seorang anak, tetapi melalui suatu yang disebut dengan karakteristik pribadi atau “karakter” (B. Uno, 2006)
Dengan cara mengenali dan mengetahui karakteristik peserta didiknya seorang guru akan lebih mudah dalam menerapkan Pendekatan Keterampilan Proses dalam pembelajarannya. Selain itu, kita perlu menyadari bahwa dalam suatu kegiatan pembelajaran dapat terjadi pengembangan lebih dari satu macam keterampilan proses. Untuk keterampilan yakni mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan pengembangannya tidak berhenti hanya pada jenjang sekolah dasar.
            Dalam pembelajaran sekolah tingkat lanjutan pertama (SLTP) maupun sekolah menegah atas (SMA) atau sekolah menegah kejuruan (SMK), penerapan pengembangan keterampilan dasar tetap dilakukan. Penerapan keterampilan dasar Pendekatan Keterampilan Proses pada semua jenjang pendidikan diperlukan untuk mendukung penerapan keterampilan terintegrasi Pendekatan Keterampilan Proses. Berikut sepuluh keterampilan terintegrasi:
1.      Mengenali variabel
2.      Membuat tebel data
3.      Membuat grafik
4.      Menggambarkan hubungan antar variabel
5.      Mengumpulkan dan mengolah data
6.      Menganalisis penelitian
7.      Menyusun hipotesis
8.      Mendefinisikan variabel
9.      Merancang penelitian
10.  Bereksperimen.
Dalam penerapan keterampilan dasar Pendekatan Keterampilan Proses tidak diperlukan lagi uraian teorinya bagi siswa SLTP dan sekolah menegah, yang siswa mampu melakukannya.
            Penerapan keterampilan terintegrasi Pendekatan Keterampilan Proses dalam pembelajaran jenjang pendidikan SLTP dan sekolah menegah atas (SMA) memerlukan pembahasan teori dari tiap keterampilan yang ada di dalamnya. Penjelasan teoritis tentang masing-masing keterampilan terintegrasi akan membantu memudahkan siswa dalam mempraktikannya. Mengingat keterampilan terintegrasi dalam Pendekatan Keterampilan Proses merupakan keterampilan melaksanakan suatu kegiatan penelitian, maka penerapannya dalam pembelajaran hendaknya dilakukan dengan urutan yang hierarkis. Dengan kata lain, sebelum satu keterampilan dikuasai siswa jangan berpindah kepada keterampilan lainya.
            Untuk memperjelas penerapan keterampilan-keterampilan Pendekatan Keterampilan Proses dalam pembelajaran, berikut ini akan di contohkan penerapannya dalam bidang studi IPS SLTP dan Mata Pelajaran Biologi SLTA kelas III.
Contoh-contoh berikut diikuti dengan analisis terhadap deskripsi kegiatan pembelajaran untuk menentukan keterampilan Pendekatan Keterampilan Proses yang di kembangkan.
Contoh 1 : Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses bidang studi IPS SLTP
Bidang Studi           : Ilmu Pengetahuan Sosial
Sub-Bidang Studi    : Ekonomi Koperasi
Apokok Bahasan      : Pembangunan Daerah
Sub-Pokok Bahasan  : Pembangunan Kota
Kelas/Semeter          : III/5
Implementasi PKP   :
1.      Menugaskan siswa secara kelompok (2-3 orang) datang ke lokasi proyek pembangunan di kota, dan mengumpulkan data tentang latar belakang proyek dikerjakan, tujuan proyek, dan prakiraan anggarannya.
2.      Menugaskan kelompok untuk menyusun data dan menyajikan laporannya.
3.      Mendiskusikan perolehan dari kegiatan yang dilakukanoleh tiap-tiap kelompok.
Dari contoh penerapan Pendekatan Keterampilan Proses dalam bidang studi IPS SLTP ini, kita dapat menandai ada sedikitnya 4 (empat) jenis keterampilan yang dikembangkan yakni mengamati, mengumpulkan data, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan.
Contoh 2 : Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses mata pelajaran Biologi SMA
Mata Pelajaran        : Biologi
Pokok Bahasan        : Berbagai Ekosistem di Dunia
Sub-Pokok Bahasan : Ekosistem air Tawar
Kelas/Semester        : III/5
Implementasi PKP   :
1. Menjelaskan berbagai contoh ekosistem air tawar.
2. Menugaskan siswa melakukan penyeliaan terhadap  keadaan ekosistem air tawar, secara kelompok (2-3 orang).
3. Mendiskusikan hasil penyeliaan yang dilakukan oleh tiap-tiap kelompok.
Dari contoh diatas, dapat kita kenali jenis-jenis keterampilan Pendekatan Keterampilan Proses yang dikembangkan.
Untuk mewujudkan kemandirian siswa dalam belajar memerlukan keterampilan strategi keterampilan proses disamping strategi hasil evaluasi belajar. Keterampilan Proses masih sangat relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan pembangunan bangsa saat ini. Keterampilan Proses dalam Pembelajaran menganut sistem kontruktivistik dalam pendidikan. Sistem ini memandang siswa sebagai manusia yang memiliki daya kreatif. Setiap siswa memiliki potensi kreatif untuk dikembangkan dalam pembelajaran melalui pendekatan keterampilan proses. Dalam hal ini guru akan berperan sebagai motivator dan fasilitator, pembimbing dan pengarah siswa selama belajar. Keterampilan berarti kemampuan untuk menggunakan pikiran, daya nalar dan kreativitas. Secara umum keterampilan proses dapat diartikan sebagai tindakan dalam pembelajaran yang menggunakan daya pikir dan kreativitas siswa secara efektif dan efisien. Untuk menerapkan keterampilan proses dalam pembelajaran ada empat faktor yang perlu dipahami:
2.4 Faktor yang menentukan keberhasilan Pendekatan Keterampilan Proses
1.      Faktor Guru
Guru perlu bersikap progresif untuk menjalankan pendekatan keterampilan proses. Sikap progresif ini terutama dalam menerima dan melaksanakan sesuatu yang baru apabila menuntut pikiran serta kerja yang lebih keras dari yang biasa dilakukan guru. Sebab, keterampilan proses akan menggeser peranan guru dari pemberi informasi menjadi motivator dan fasilitator dalam pembelajaran. Sebaliknya siswa harus diberi kesempatan untuk belajar mandiri sesuai dengan potensi masing-masing siswa.
2.      Faktor Siswa
Tujuan akhir dari keterampilan proses adalah kemandirian siswa dalam belajar. Oleh sebab itu keterampilan proses menuntut adanya kemampuan siswa untuk menggunakan daya nalar dalam belajar. Sementara itu setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda. Kemampuan siswa yang berbeda dapat dikembangkan selama pelajaran berlangsung.
3.      Faktor Kelengkapan Sarana Belajar
Sarana belajar seperti alat peraga, media belajar, laboratorium dan sebagainya sangat diperlukan dalam melaksanakan keterampilan proses. Sebab, peran dari sarana belajar tersebut adalah untuk mempermudah siswa dalam memahami dan menerima materi pembelajaran.
4.      Faktor Metode Mengajar
Metode mengajar juga menjadi faktor menentukan dalam penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran. Tidak ada satupun metode mengajar yang dapat dikatakan baik. Metode mengajar yang baik adalah metode yang relevan dengan materi pelajaran dan sarana belajar yang ada.
Contoh metode mengajar
Model Dengar-Lihat-Kerjakan (DeLiKan)
Model ini dapat digunakan untuk menyampaikan bahan pengajaran yang sifatnya fakta dan konsep. Aktivitas mental siswa dalam penggunaan model mengajar ini adalah mengingat, mengenal, menjelaskan, membedakan, menyimpulkan dan menerapkan.
Prosedur pengguanaan model Delikan adalah sebagai berikut:
1. Pra Instruksional
2. Instruksional
3. Evaluasi
4. Tindak Lanjut
Dengan adanya ke empat faktor tersebut, penerapan Pendekatan Keterampilan Proses akan lebih mudah dapat terwujud dan dapat mengembangkan peserta didik lebih baik lagi. Dengan adanya kebaikan atau kelebihan pada Pendekatan Keterampilan Proses ini, maka seyogianya calon guru belajar Pendekatan Keterampilan Proses secara keilmuan untuk dijadikan modal dasar menjadi sosok guru yang profesional yang siap menjadi fasilitator serta motivator bagi peserta didiknya nanti.
Pendekatan Keterampilan Proses merupakan termasuk dalam bagian kurikulum 2013. Dimana siswa dituntut aktif, kreatif, dan inovatif dalam proses pembelajarannya. Namun harus diakui dalam penerapannya Pendekatan Keterampilan Proses sulit namun tidak mustahil untuk diterapkan (Kurinasih, 2014 : 40)



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pendekatan Keterampilan Proses adalah pendekatan dalam proses belajar mengajar yang mengarahkan pada wawasan untuk menemukan fakta dan konsep maupun pengembangan keterampilan–keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar  yang  pada dasarnya telah ada dalam diri peserta didik sehingga mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu dalam diri peserta didik  itu sendiri. Keterampilan proses terdiri dari beberapa keterampilan diantaranya yaitu: mengamati, mengklasifikasikan, mengkomunikasiakan, megukur, memprediksi, dan menyimpulkan. Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses merupakan bukan perkara yang yang mudah banyak aspek yang harus menjadi perhatian dalam upaya penerapan Pendekatan Keterampilan Proses tersebut.
Untuk menerapkan keterampilan proses dalam pembelajaran ada empat faktor yang perlu dipahami diantaranya, faktor guru, faktor siswa, faktor Kelengkapan sarana belajar, dan faktor metode mengajar. Jadi diharapkan dengan adanya kebaikan atau kelebihan pada Pendekatan Keterampilan Proses ini, maka selayaknya kita sebagai calon guru belajar Pendekatan Keterampilan Proses secara keilmuan untuk dijadikan modal dasar menjadi  guru yang profesional.





DAFTAR PUSTAKA
Dimyati  & Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. PT Rineka Cipta.
Kurinasih & Sani. 2014. Implementasi Kurikulum 2013. Surabaya. Kata Pena
Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta. Rineka Cipta
Syatra Nuni Yusvavera. 2013. Desain Relasi Efektif Guru dan Murid. Yogyakarta. BukuBiru.
Uno, Hamzah B. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta. PT Bumi Aksara.
https://id.wikipedia.org/wiki/pendekatan_keterampilan_proses.